Radikalisme tidak lahir dalam ruang hampa. Sebaliknya, ia tumbuh dari cara berpikir yang keliru, pemahaman agama yang terdistorsi, serta sikap berlebihan dalam memandang perbedaan. Karena itu, buku Radikalisme di Sekitar Kita mengajak pembaca mengenali pola-pola tersebut secara jernih, sistematis, dan argumentatif.
Pertama, buku ini membahas delapan isu utama yang kerap menjadi pintu masuk radikalisme. Penulis mengurai paham takfiri, tudingan bidah, trinitas tauhid, distorsi makna jihad, antimazhabisme, paham jāhiliyyah, ḥākimiyyah, hingga konsep al-walā’ wal-barā’. Selain itu, setiap pembahasan berpijak pada al-Qur’an, hadis, dan manhaj Ahlusunah wal-Jamaah, sehingga argumentasinya tetap kokoh dan terarah.
Selanjutnya, penulis tidak berhenti pada kritik. Ia menunjukkan letak kesalahan berpikir, lalu meluruskan pemahaman yang menyimpang dengan dalil dan penjelasan yang terukur. Dengan demikian, buku ini menegaskan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan, bukan ekstremisme. Islam berdiri di antara sikap radikal dan liberal tanpa condong pada salah satu sisi.
Lebih jauh lagi, sebagai lanjutan dari buku Liberalisme di Sekitar Kita, karya ini melengkapi upaya intelektual dalam membentengi umat dari dua arus ekstrem. Melalui penerbitan ini, Sidogiri Penerbit menegaskan komitmennya untuk menjaga kemurnian ajaran Islam sekaligus merespons tantangan zaman.
Pada akhirnya, Radikalisme di Sekitar Kita membantu pembaca memahami isu radikalisme secara proporsional dan mendalam. Buku ini mengajak pembaca mengenali gejalanya, menelusuri akar pemikirannya, serta memahami dampaknya dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Oleh sebab itu, pembaca tidak mudah terjebak dalam pola pikir ekstrem yang menyimpang dari ajaran Islam yang lurus dan moderat.
Singkatnya, Islam adalah agama rahmat. Melalui buku ini, kita diajak kembali pada pemahaman yang seimbang, bertanggung jawab, dan berlandaskan ilmu.











