Kitab Al-Ma’man min adh-Dhalalah edisi ketiga hadir dengan pembahasan tambahan yang sangat penting.
Hadratusy-Syaikh menambahkan sejumlah tema aktual untuk menjawab kebutuhan umat dalam memahami akidah Ahlussunnah wal Jama‘ah secara lebih utuh.
Edisi ini tidak hanya menyempurnakan edisi sebelumnya, tetapi juga memperluas cakupan pembahasan akidah yang relevan dengan realitas umat.
1. Af‘alul ‘Ibad: Perbuatan Manusia dan Kehendak Tuhan
Pada pembahasan awal edisi ketiga, Hadratusy-Syaikh membahas konsep Af‘alul ‘Ibad.
Beliau mengulas hubungan antara kehendak mutlak Allah Ta‘ala dan ikhtiar manusia.
Pembahasan ini juga menjelaskan perbedaan pandangan ulama tentang konsep kasb atau usaha manusia.
Topik ini menjadi dasar penting dalam memahami tanggung jawab moral dan keadilan Ilahi.
Akidah Ahlussunnah wal Jama‘ah menempati posisi tengah antara jabariyah dan qadariyah.
2. Rasulullah ﷺ sebagai Pusat Keberhasilan Dakwah
Pada bagian berikutnya, penulis menjelaskan kedudukan agung Rasulullah ﷺ sebagai pembawa wahyu.
Beliau juga menegaskan peran Nabi ﷺ sebagai pemimpin sentral dalam dakwah Islam.
Rasulullah ﷺ hadir di tengah umatnya.
Beliau memahami kondisi sosial dan merasakan penderitaan umat secara langsung.
Kesulitan umat tidak pernah beliau anggap sepele.
Setiap penderitaan menjadi beban batin yang beliau rasakan dengan empati mendalam.
3. Empat Ciri Kepemimpinan Rasulullah ﷺ (QS. At-Taubah: 128)
Hadratusy-Syaikh menguraikan sosok Rasulullah ﷺ berdasarkan QS. At-Taubah ayat 128.
Ayat ini menggambarkan kepemimpinan Nabi ﷺ melalui empat ciri utama:
Rasul yang berasal dari kaumnya sendiri
Sangat berat merasakan penderitaan umat
Sangat menginginkan kebaikan bagi umat
Bersifat penyantun dan penuh kasih sayang
Ayat ini menjadi landasan penting dalam konsep kepemimpinan Islam.
4. Dua Ayat Pokok Sumber Akidah Ahlussunnah
Dalam pembahasan lain, penulis menegaskan bahwa seluruh konsep akidah bersumber dari dua ayat Al-Qur’an.
Dari dua ayat inilah konsep akidah lima puluh Ahlussunnah wal Jama‘ah terbentuk.
Ayat pertama menegaskan tauhid:
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan selain Allah.”
(QS. Muhammad: 19)
Ayat kedua menegaskan risalah:
“Muhammad adalah utusan Allah…”
(QS. Al-Fath: 28)
Kedua ayat ini menjadi fondasi utama akidah Islam.
5. Ilmu Laduni dan Sosok Nabi Khidir
Pada pembahasan akhir, Hadratusy-Syaikh membahas konsep ilmu laduni.
Beliau merujuk kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir dalam QS. Al-Kahfi.
Pembahasan ini juga mengulas perbedaan pendapat ulama.
Sebagian ulama menilai Khidir sebagai nabi.
Sebagian lainnya menilai beliau sebagai wali saleh, bukan nabi.
Topik ini menjaga keseimbangan antara akidah, nash, dan tasawuf.




















Ulasan
Belum ada ulasan.